2 Kasus Parenting: Jika Lingkungan Pergaulan Anak Buruk dan Ketika Anak Menangis Saat Dilarang

2 Kasus Parenting: Jika Lingkungan Pergaulan Anak Buruk dan Ketika Anak Menangis Saat Dilarang  Parents, wajar jika orang tua khawatir ketika melihat lingkungan pergaulan anaknya kurang baik. Lalu, apa yang harus dilakukan? Ini dia tipsnya dari Abah Ihsan.

  1. Lingkungan Pergaulan Anak Buruk

Beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua, antara lain seperti di bawah ini ya. 

  • Selidiki dulu. Tingkat keburukannya sejauh mana? Buat level atau tingkatan keburukan. Ini tidak baku. Anda boleh memiliki standar sendiri, misalnya:

Level 6: Sebagian besar anak tidak sholat

Level 5: Sebagian besar anak ngomong kotor

Level 4: Sebagian besar anak dibebaskan memakai gadget

Level 3: Sebagian besar anak melakukan kekerasan hal biasa

Level 2: Anak-anak merokok, begadang malam, mabuk-mabukan

Level 1: Gabungan semuanya, ditambah sudah terbiasa lihat orang madat, mabuk.

                         Pergaulan yang Buruk (gambar dari akuratnews.com)

 

  • Batasi pergaulan anak! Jika lingkungannya masuk kategori 6
  • Awasi dan dampingi! Jika lingkungan masuk kategori level 5-4
  • Aktifkan! Jika lingkungan masuk level 3 maka proaktif jadikan diri menjadi bagian pengubah lingkungan. Hidupkan dakwah lingkungan. Ramaikan kegiatan RT/RW dan MASJID. Jadi bagian aktif bukan hanya jadi penonton.
  • Hijrah! Pindah wajib jika masuk level 2-1 dan jika tidak kuasa melakukan nomor empat

 

  • Anak Menangis Saat Dilarang

Selain kasus di atas, ada pula orang tua yang bertanya mengenai problem ketika anak menangis saat dilarang. Mari simak.

“Abah Ihsan, anak saya usia 2 tahun jika dilarang suka nangis, itu normal?”

                                 Anak Sering Menangis (gambar dari merdeka.com)

 

Sudah panjang lebar 300 halaman dijelaskan di buku warna jingga saya yang berjudul: “7 Kiat Menjadikan Anak Disiplin dan Bahagia”. Jadi?

  1. Normal, lah! Remember! Semua anak di seluruh dunia punya “hukum kekekalan ikhtiar.” Maka, hampir semua anak di seluruh dunia ketika ditolak keinginannya, akan tidak nyaman dan sebagian akan mengekpresikannya.
  1. Ketika tidak nyaman di awal menerapkan ketegasan, kalau belum terbiasa punya batasan-batasan, maka anak akan melakukan salah satu ikhtiar berikut:
  • menangis
  • berteriak
  • mengamuk
  • melempar barang
  • jika berlebihan bisa: muntah, memukul diri dan lain-lain
  • menyerang dengan perkataan
  • menyerang dengan fisik
  • dan lain sebagainya
  1. “Anak saya itu kalau ada keinginan harus dituruti.” Jawab: jangan geer, emang anak situ doang? Anak Abah Ihsan, anak yang lain juga normal lah kalau ada keinginan inginnya dipenuhi. Ya, enggak?
  1. Dituruti atau tidak, tergantung batas yang ditentukan nilai keluarga masing-masing. Apakah berlebihan atau tidak.
  1. “Tapi anak tetangga saya kok beda, dilarang tidak banyak tingkah.”

Parents, beda anak beda tipe. Ada yang dilarang langsung patuh ada yang harus pakai ikhtiar dulu. Nikmati saja. Itu pun yang diam bisa jadi ada beberapa kemungkinan:

  • Hasil dari usaha konsisten dia bertahun-tahun (beda usia juga menentukan)
  • Atau saking ketakutan anak sama orang tuanya (hehe)
  1. Jadi solusinya bagaimana?
  • Perbolehkan jika tidak berlebihan
  • Dilarang dengan ketegasan jika berlebihan
  • Menangis jejeritannya bagaimana?
  • alihkan
  • biarkan tetap konsisten
  • tindak

Itulah 2 Kasus Parenting: Jika Lingkungan Pergaulan Anak Buruk dan Ketika Anak Menangis Saat Dilarang. Semoga artikel ini bermanfaat bagi orang tua, ya!

Terima kasih telah membaca artikel parenting berjudul: “2 Kasus Parenting: Jika Lingkungan Pergaulan Anak Buruk dan Ketika Anak Menangis Saat Dilarang” silakan di-share ya, Parents

Tidak usah bingung lagi mengurus si kecil dan masalahnya. Intip kiat paten dari pakar parenting terkemuka Indonesia, klik di sini 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *