Trik agar Ilmu Pengasuhan Tidak Hilang Setelah Dipelajari Orang Tua

Trik agar Ilmu Pengasuhan Tidak Hilang Setelah Dipelajari Orang Tua – Beberapa peserta pelatihan parenting mengeluh, “Rasanya sesudah belajar kok enggak ada hasilnya? Padahal saat di kelas belajar parenting banyak banget perasaan bersalah. Malah nangis bombay. Saya kok masih marah sama anak, ya? Kok, masih emosian pada anak ya?

 

Trik agar Ilmu Pengasuhan Tidak Hilang Setelah Dipelajari Orang Tua

Trik agar Ilmu Pengasuhan Tidak Hilang Setelah Dipelajari Orang Tua – Gambar©shutterstock.com

 

Parents, pernah dengar atau mengalami perasaan ini? Biasanya diikuti dengan pertanyaan seperti di atas tadi. Jadi, hasil pelatihannya menguap? Are you sure? Saya mau menanggapi dengan beberapa kemungkinan.

Perasaan ini terjadi karena biasanya TARGET kita berubah terlalu LEBAY! Alias ketinggian. Misalnya, setelah belajar kita inginnya enggak marahin anak lagi! What? Memang situ malaikat? Memang anak kita enggak mungkin berbuat salah lagi?

Memang enggak boleh marah ya sama anak? Punya target enggak boleh marah, menurut saya berlebihan. Lah, abah sendiri masih marah. Lah marah juga dapat menjadi ibadah loh, ya. Saya paling tidak percaya jika ada pakar pendidikan yang mengatakan “jangan marahin anak!”

Let’s check it out di rumahnya. Kalau diperiksa pakai CCTV 24 jam x 365 hari, enggak mungkin dia enggak pernah marahin anaknya! Kecuali memang doi enggak punya anak. Anaknya enggak tinggal serumah (disimpan di neneknya di kampung atau anaknya boarding school).

Yang dimaksud “laa taghdob walakal jannah“, jangan marah maka bagimu surga itu apa? Marah seperti apa? Tanya ulama soal ini, deh. Maksudnya marah destruktif yang berlebihan yang berbahaya itu.

Dalam bahasa pengasuhan yang saya sering saya katakan: Merasa marah itu normal, sebagaimana kita boleh merasa bahagia, gembira, sedih, kecewa, bete, dan lain-lain. Perasan tidak dapat dihubungi, sampai ia disalurkan: dengan cara negatif atau positif. Ia mungkin menjadi dosa jika ia sudah disalurkan dengan berlebihan: menyakiti, membentak, merusak barang (karena termasuk tabdzir) dan memaki.

Marah berlebihan itu akan terjadi dan sangat besar peluangnya jika: orang tua “less of skill” menaklukkan anak. Orang tua yang kurang skill akan omdo, omong doang, tapi tidak menindak anak saat anak bertindak nyebelin. Akibat hanya omong doang dan lalu anak tidak menggubris; maka emosilah orang tua.

Skill untuk menindak anak inilah yang saya bahas panjang lebar di training level 2 saya: PROGRAM DISIPLIN ANAK (PDA).

 

Trik agar Ilmu Pengasuhan Tidak Hilang Setelah Dipelajari Orang Tua

 

Saya mau tanya, jika kita mampu menaklukkan anak dengan ketegasan, apakah masih butuh emosian apalagi kekerasan? Tidak! Target ketinggian lainnya misalnya anak ingin kita ubah secara instan.

Maaf ya, enggak ada pembicara atau kelas belajar di dunia ini yang sanggup mengubah seseorang seketika. Selama 10 tahun berdakwah, hanya puluhan orang saja yang berhasil diajak Rasulullah SAW. Selama 900 tahun berdakwah, hanya sekira 90 orang saja yang berhasil diajak oleh Nabi Nuh AS.

Semua perubahan itu butuh penempaan berulang agar menjadi tajam. Jadi, enggak bisalah berubah seketika. Apalagi kita tidak menyadari modal kita sebelumnya.

Menuntut pasangan, misalnya, bisa punya nilai perubahan 9 setelah belajar, padahal dulu modalnya -5, bagi saya berlebihan. Berubah menjadi -2 atau nol saja sudah disyukuri. Menuntut kita berubah punya nilai 9 dari -5 itu mirip perumpaman, baru 1 kali pertemuan kelas berenang, eh pengen bisa menyeberangi selat Sunda. What?! Are  you sure!!!!

Belajar apapun, memanah, berkuda, berenang, butuh latihan. Semua atlit dunia yang sukses itu butuh ribuan jam untuk sampai tahap menjadi peraih medali. Batu paling mulia di daratan: emas, intan, berlian, atau di dalam lautan: mutiara, hanya bisa didapat di dalam bumi atau di lautan yang dalam. Butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Maka belajar, tarbiyah, itu adalah penempaan. Enggak boleh berhenti belajar sampai mati.

Semoga artikel parenting Trik agar Ilmu Pengasuhan Tidak Hilang Setelah Dipelajari Orang Tua” ini dapat bermanfaat, Jangan lupa di share ya! 🙂

Ingin lebih pede menjadi orang tua di zaman now ini? Segera dapatkan tips terbaik dari pakar parenting kekinian, klik di sini ya

Penulis : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (Abah Ihsan). Editor: TS & LUS

Baca jugaCara Simpel Mendidik Anak Remaja di Zaman Now