Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare?

Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare? – Jika karena keadaan tertentu membuat seorang ibu harus bekerja, lalu siapakah yang akan mendampingi anak tumbuh besar? Tiga kemungkinan besar biasanya seperti yang akan diuraikan di bawah ini.

 

1. Menggunakan Jasa Outsourcing
Ketiga kebiasaan orang tua yang bekerja, yang pertama adalah menitipkan anak pada asisten rumah tangga (pembantu) di rumah, atau “outsourcing” dengan tetangga sebelah yang mau dititipkan. Kedua yaitu menitipkan pada kerabat, misalnya nenek atau kakek, tante, saudara, adik atau kakak yang tidak bekerja. Lalu yang terakhir adalah menitipkan pada orang atau lembaga profesional: seperti daycare atau tenaga pendidik profesional yang khusus disewa untuk menstimulasi anak.

Yang jelas saya tidak akan pernah merekomendasikan yang nomor satu.. Sebab lagi-lagi tugas mereka hanya “menjaga” bukan mendidik. Tugas mereka hanya memastikan anak aman dari bahaya dan makannya terpenuhi tapi belum tentu menstimulasi anak-anak ini.

Masih lebih baik jika anak dibiarkan bermain untuk menstimulasi kecerdasannya. Tapi bagaimana jika si pengasuh ini terlalu protektif? Sayang sekali jika anak yang dijaga pihak nomor pertama ini kerjaannya hanya diberi makan, ditidurkan, disimpan di depan televisi.

 

2. Menitipkan Anak ke Kerabat
Bagaimana dengan pilihan menitipkan anak pada kerabat? Terutama yang sering terjadi adalah pada nenek dan kakek anak-anak kita?

Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare?

Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare? – Gambar©pinterest.com

 

Pilihan menitipkan anak pada nenek dan kakek insya Allah menjadi baik, tapi dengan berbagai syarat:

1) Nenek atau kakek termasuk orang yang bisa diajak kompromi soal pendidikan anak, mudah diajak berdiskusi soal pendidikan anak, memiliki pengetahuan luas soal pendidikan anak sehingga memiliki batasan-batasan yang jelas (tidak terlalu protektif, tidak terlalu mengekang, juga tidak terlalu memanjakan).

2) Pengawasan dan pendampingan pada anak kecil yang membutuhkan energi lumayan besar ini tidak sampai mengganggu kesehatan nenek dan kakek.

3) Untuk ukuran orang yang sudah sepuh, nenek dan kakek seharusnya bisa didampingi oleh asisten (perawat, asisten rumah tangga) untuk mengurusi pekerjaan-pekerjaan nonstimulasi atau yang membutuhkan energi banyak: mengganti popok, mencuci popok, memberi makan. Jika tidak umumnya mereka bakal kewalahan (nenek dan kakek plus pengasuh).

4) Keinginan dari nenek dan kakek sendiri, yang memang sangat senang dengan anak-anak dan sangat menikmati kebersamaan dengan cucu-cucunya (mereka sendiri yang ikhlas atau menginginkannya, setelah diajak bicara).

Karena itu, jangan sampai pilihan menitipkan anak pada nenek dan kakek malah menyebabkan kemungkinan yang jika diungkapkan dalam bahasa negatif, “Dulu mereka membesarkan kita dengan susah payah, masak di usia sekarang masih juga dikerjain oleh kita anaknya, untuk mengurus cucu-cucunya.”

Jika salah satu syarat tadi tidak dipenuhi, apalagi yang nomor empat, saya sama sekali tidak merekomendasikan untuk menitipkan anak pada nenek dan kakeknya. Bahkan, saya lebih setuju jika pilihannya diganti jadi menitipkan anak pada daycare atau perawat profesional. Meski tetap harus dipilih dan dipilah agar jangan sembarang daycare yang dipercaya untuk menitipkan anak-anak kita.

 

3. Menitipkan Anak ke Daycare

Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare?

Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare? – Gambar©homydaycare.com

 

Walaupun kurang ideal seperti orang tua, daycare bisa jadi pilihan baik lain selain nenek dan kakeknya, karena dengan beberapa alasan yang sering disebutkan:

a) Pengawasan dan pengasuhan oleh profesional (psikolog, perawat, dan lain-lain) yang memahami tumbuh kembang anak.
b) Makanan terjamin, karena dengan tenaga profesional tadi sudah terstruktur pula pemenuhan nutrisi anak selama berada di lingkungan daycare.
c) Anak mendapatkan stimulasi atau rangsangan tumbuh kembang (kognitif, emosi dan psikomotorik).
d) Anak belajar bersosialisasi dan kemandirian (seperti toilet training yang konsisten, bermain dengan teman sebaya lebih sering, dan lain-lain).
e) Minimum kontaminasi media televisi.
f) Stimulasi nilai-nilai positif: agama, karakter (story telling, eksplorasi bermain, games, dan lain-lain).

 

Perhatikan pula hal ini. Beberapa hambatan orang tua ketika menitipkan anak di daycare atau sering disebut kendala, yang disebutkan orang tua antara lain:

• Masalah kekhawatiran soal kesehatan. Misalnya khawatir anak mudah tertular penyakit karena setiap hari berinteraksi dengan anak yang lain.
• Masalah ketidaknyamanan dan kekhawatiran karena anak dititip bukan dengan keluarga sendiri.
• Masalah finansial. Menitipkan anak di daycare membutuhkan pengeluaran lebih dan ini akan menguras keuangan. Tidak hemat, baik untuk transport antar jemput maupun biaya daycare itu sendiri.

 

Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare?

 

Alasan yang pertama, sebenarnya alasan yang tidak beralasan. Maksud saya bakteri dan kuman itu bisa jadi ada di manapun. Ada pada tanah, ada pada pohon, ada di meja, kursi, ada pada tempat cuci piring.

 

Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare?

Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare? – Gambar©canstockphoto.fr

 

Ini persis seperti orang tua yang khawatir anaknya sakit jika hujan-hujanan. Apakah air hujan itu yang menyebabkan anak sakit? Tanya dokter manapun, bukan hujan yang menyebabkan anak sakit tapi masalah kekebalan tubuh anak yang tengah lemah dan kebetulan hujan-hujanan itulah yang menyebabkan anak sakit. Jika hujan dapat menyebabkan sakit, pastilah semua orang yang kena hujan akan sakit! Tapi apakah semua orang yang kena hujan pasti sakit? Tidak, bukan?

Kecuali benar bila anak-anak lain itu memiliki penyakit menular yang berbahaya dan potensial untuk ditularkan. Namun, yang lainnya seharusnya tidak menjadi kekhawatiran, sebab jika anak kekebalan tubuhnya memang kuat, dia tidak akan mudah terserang penyakit. Lagi pula tenaga profesional yang tadi disebutkan tidak mungkin tidak mengantisipasi mengenai hal ini.

 

Alasan kedua soal ketidaknyamanan adalah hal yang juga tidak perlu dikhawatirkan. Sebab, setiap anak pada awalnya akan mengalami apa yang disebut “separation anxiety” atau kecemasan berpisah dengan orang tuanya.

Tapi seiring dengan berjalan waktu, ketidaknyamanan anak ini akan hilang. Persis seperti anak yang ditinggalkan bekerja pertama kali oleh orang tuanya. Mereka menangis dan mungkin jadi histeris. Jika orang tua konsisten, tangisan dan teriakan anak ini tidaklah berlangsung seterusnya. Silahkan baca tulisan saya yang lain tentang “separation anxiety” ini.

 

Alasan ketiga soal hambatan finansial, ini yang serius. Jika ayah dan ibu bekerja memang demi anak-anak, lalu mengapa kita masih berpikiran soal berhemat?

Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare?

Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare? – Gambar©islamidia.com

 

Uang yang dihasilkan itu kan untuk anak juga. Jadi wajar pula jika uang yang dihasilkan itu sebagiannya diinvestasikan untuk anak. Meski tetap harus dikelola porsinya.

Terdengar klise, tapi fakta di sekitar kita menunjukkan kebenaran ini. Banyak orang tua demi masa depan anak-anaknya, agar anaknya sukses, bekerja keras membanting tulang, mengorbankan waktu, hingga tak punya waktu untuk anak-anaknya, menelantarkan anak-anaknya. Kemudian yang terjadi setelah masa depan itu datang, setelah orang tua ini renta, anak memang sukses. Sayangnya banyak dari anak-anak ini malah menelantarkan orang tuanya.

Maka saya berpesan untuk para orangtua yang keduanya bekerja (ayah dan ibu), please deh, investasikan sebagian uang Anda untuk tumbuh kembang anak dengan serius. Gaji punya, tapi anak hanya difasilitasi asisten rumah tangga. Jika Anda bekerja, ya jangan hanya ART. Jika tidak menitipkan anak di day care, rekrutlah tenaga pendidik. Seperti lulusan paud, lulusan PGTK dan sebagainya untuk menstimulasi anak di rumah dengan gaji profesional.

Seperti berlebihan, tapi tanya pada diri kita sendiri. Apakah uang yang kita dapatkan dari hasil kerja keras itu hanya bekerja untuk kepuasan diri sendiri, untuk keluarga, kedua-duanya atau untuk apa lagi?

 

Semoga artikel parenting “Pro Kontra Menitipkan Anak: Outsourcing, Kakek Nenek atau Daycare?” ini bermanfaat, khususnya bagi orang tua yang bekerja. Terima kasih sudah membaca, silahkan di share :D. 

Wassalamualaikum

Tidak usah bingung lagi mengurus si kecil dan masalahnya. Intip kiat paten dari pakar parenting terkemuka Indonesia di sini, yuk

Baca juga:  

Kiat Sukses Agar Anak Disiplin dan Bahagia (Part 1)

Kiat Bagi Orang Tua Bekerja: Menitipkan Anak Kemana Baiknya? (Part 2)

Parenting di Era Milenial yang Sejalan dengan Sunah Rasulullah

===

Penulis: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (Abah Ihsan). Editor: TS, WPU